Monday, March 12, 2012

Dengan Izin-Nya

MANUSIA adalah makhluk paling unik. Terkadang logikanya pun sering kacau, sehingga suka menarik kesimpulan sendiri. ”Tuhan tidak adil, tidak memihak yang lemah dan teraniaya,” kita memandang adil atau baik menurut versi kita sendiri, tidak dengan kehendak ilahi.

Ketidakadilan itu pula yang sering dipersoalkan seorang ibu, kala bayinya yang lucu dan manis meninggal. “kenapa bukan anak orang lain,” katanya menggugat Tuhan. Ia tak rela. Itulah buah keagamaan iman jika cinta pada sesama melebihi kepada Allah. Ya… tak dapat dipungkiri saya pun sering menggugat Tuhan manakala terkandas dalam suatu masalah.

Berbeda dengan sikap Barakah ‘Abidah di Arabia. Ia sukses. “Namun, aku masih saja khawatir kalau-kalau penghasilanku sama sekali tidak berarti dihadapan Allah. Karena itu, aku pun sedih seraya berpikir, sekiranya Allah memang benar-benar menginginkan kekayaanku, dia pasti bakal membinasakanharta dan anak-anakku,” katanya.

Benar saja. Akhirnya, baik anak-anak maupun hartanya tidak tersisa. “Namun, semuanya toh membuatku bahagia. Aku curiga, jangan-jangan Allah menginginkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagiku melalui berbagai ujian ini. Dan inilah cara-Nya mengingat diriku serta menjadikan jiwaku suci,” ujarnya.

Mensucikan harta juga dilakukan seorang nonmuslim asal Sumatera. Ia senang membelikan peti mati pada keluarga yang tak mampu. Tiap minggu, dua atau tiga peti pasti disumbangkan. “Saya merasa nikmat sekali setelah membantu mereka,” katanya. Namun, kenikmatan itu ada yang mengganjal. Soalnya, uang untuk membeli peti mati itu bukan jerih payah sendiri, melainkan hasil keringat suami. “Saya ingin bisnis sendiri agar bisa membelikan peti mati untuk orang-orang tak mampu,” ujarnya.

Rasanya, jika pemberian itu seizing suami, makna dan barokahnya tetap sama tanpa ada ganjalan. Persis kisah Narada di pewayangan. Dia putra seorang pembantu. Dia tidak terdidik. Kadang, jika ibunya berhalangan, dia pula yang melayani para resi. Dalam Srimad-Bhagavata diuraikan bahwa Narada, yang mencuci piring bekas makan para penyembah mulia itu, ingin mencicipi sisa-sisa makanan. Ia pun pinta izin kepada para resi. “Bolehkah saya makan makanan sisa ini." Narada penuh harap. Diizinkan. Rupanya, izin itulah yang membebaskannya dari segala reaksi dosa. Rupanya, sisa makanan para resi ittu pula yang berangsur-angsur membuat hati Narada sesuci mereka. Bahka, melalui pergaulan itu, minat hatinya untuk memuji kebesaran Tuhan berkembang pesat.

Bercerita tentang izin juga mengingatkan seorang budak cantik bernama Tuhfah di abad IX. Ia tak mengenal tidur maupun makan. Kala kondisinya semakin gawat, majikannya mengirimkannya ke rumah sakit jiwa. Kendati ia berpakaian mewah dan wangi, kedua kakinya dirantai. Ia sering melantunkan bait-bait syair cinta.
Wahai, aku tidak gila tapi hanya mabuk! Kalbuku sadar betul dan amat bening Satu-satunya dosa dan kesalahanku ialah dengan tidak tahu malu menjadi kekasih-Nya…
Dan setelah itu, Tuhfah pingsan. Begitu siuman, ia ditanya siapa yang engkau cintai? “Aku mencintai Zat yang membuatku sadar akan anugerah, yang berbagai macam karunia-Nya menyebabkanku dikenai kewajiban, yang dekat dengan segenap kalbu, yang mengabulkan orang-orang yang membutuhkan,” ujarnya.

Syaikh al-Saqati yang mendengar syair itu tergetar. Ia menyimpulkan, Tuhfah tidak gila dan memintanya pergi kemana saja. Tapi gadis itu menjawab “Aku hanya akan pergi jika majikanku mengizinkan. Kalau tidak, aku akan tetap disini.” “Demi allah,” kata Al-Saqati dalam hati, “ia lebih bijak ketimbang diriku.”

Tanpa disangka-sangka, majikan Tuhfah dating. Ternyata, wanita yang pandai bernyanyi dan bermain harpa itu dibelinya 22.000 dirham. “Semua kekayaan dan modalku habis,” katanya. Ia berharap untung. Ternyata, Tuhfah justru sering termenung, menangis, dan membuat orang lain tak bisa tidur.

Itulah sebabnya ia dijebloskan ke rumah sakit jiwa. Jika begitu, “Berapa pun harga yang kau minta, akan kubayar,” kata Al-Saqati kepada majikan Tuhfah. Tawaran itu dicemohkan. Memang, Al-Saqati tidak punya uang sedirham pun saat itu. Sembari berlinang air mata, ia pulang kerumah.

Malam itu pula, pintu rumah Al-Saqati diketuk orang. Orang itu, menyebut dirinya Ahmad Musni, membawa lima pundi uang. Ia datang atas bisikan “suara gaib” agar Al-Saqati bisa membebaskan Tuhfah. Kontan, Al-Saqati bersyukur mencium tanah. Esoknya ia gamit tangan tamunya menuju rumah sakit.

Tak urung, penembusan itu membuat mata Tuhfah berlinang. Disaat itu pula, majikan Tuhfah dating sembari meratap dan menangis. Aneh!Janganlah menangis, “Harga yang kau minta telah ku bawakan, dengan keuntungan lima ribu dinar,” kata Al-Saqati. “Demi Allah, tidak,” kata majikan Tuhfah. Al-Saqati lalu menambahkan 10.000 dinar. Lagi-lagi dijawab “Tidak tuan.” “Sekiranya Anda memberiku seluruh dunia ini untuk membelinya, aku tidak akan menerimanya,” ia menambahkan. Ia ingin membebaskan Tuhfah tanpa penembusan. Budak itu pun pergi dengan linangan air mata.

Waktu pun berlalu. Al-Saqati, majikan Tuhfah, dan Ahmad Musni menunaikan haji. Tapi, diperjalanan, Ahmad wafat. Kala tawaf mengelilingi Ka’bah, Al-Saqati mendengar ratapan aneh nan pilu, jerit kesedihan dari hati yang terluka. Namun, ia tak mengenalinya. “Maha suci Allah! Tidak ada Tuhan selain Dia. Dulu aku pernah dikenal. Kini aku tidak dikenal lagi. Ini aku Tuhfah,”katanya.

Masya Allah! Begitu diberitahu bahwa mantan majikannya juga sedang berhaji, gadis itu berdoa sebentar, lalu roboh disamping Ka’bah dan wafat. Tak lama setelah itu, mantan majikannya yang sedih melihat Tuhfah telah tiada terjatuh disamping Tuhfah, lalu meninggal pula.
(Wanita-wanita Sufi, Dr. Javad Nurbakhsh).

Tentu, takdir di depan rumah Allah ini dengan seizin-Nya jua.

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...